Kamis, 06 Juni 2013

Memberantas Salafi Wahabi

Islam akan selalu dalam tantangan dari dulu sampai akhir dunia, baik tantangan dari luar Islam maupun dari dalam Islam, tantangan dari dalam lebih bahaya dan mengkhawatirkan dari pada tantangan dari luar, tantangan dari luar Islam, meskipun berbahaya tapi mudah diketahui oleh siapa pun, tingkat keimanan seseorang yang akan menentukan ia akan selamat dari bahaya itu atau tidak, tapi tantangan dari dalam Islam, sangat sulit membedakan bagi orang awam, karena semua atas nama Islam, dalam hal ini tingkat kepahaman seseorang sangat berperan dalam menentukan nya selamat dari kesesatan paham-paham yang telah melenceng dari tuntunan Islam, sangat disayangkan bila Islam justu di rusak oleh ummat Islam itu sendiri dengan paham-paham sesat menyesatkan, maka sangat dibutuhkan sosialisasi dan amar ma’ruf – nahi mungkar dalam membongkar kesesatan Syi’ah, HTI, Millata Abraham, Ahmadiyah, pemurtadan, Wahabisme, pendangkalan Aqidah, meluruskan paham-paham yang mesti diluruskan dan semua aliran sesat lain nya, baik di luar Islam maupun di dalam Islam sendiri, dan sengaja kami khususkan Wahabisme dalam judul, karena mereka sangat berbahaya, meresahkan dan mudah terpengaruhnya orang awam dengan cara mereka yang licik dan tidak bertanggung-jawab, memalukan dan memilukan, dan semoga tulisan ini menjadi renungan dan peringatan bagi mereka yang selama ini hanya diam dan bahkan salah kaprah dalam menyikapi Dakwah dan Ukhuwah, menganggap semua firqah dalam Islam sama saja dan mereka lupa telah rela dengan kemungkaran dan mencampur-adukkan yang Haq dan yang Bathil, atau mereka lupa dengan hal-hal yang prinsipil, dan membiarkan hati nya setuju pada hal-hal yang tidak bisa di tolelir sama sekali, berbahagialah orang yang bisa menjaga hati dalam aqidah yang suci dan punya Hati yang selalu berhati-hati.

Dengan merujuk kepada kitab-kitab Ulama Ahlus Sunnah Waljamaah, sudah tidak diragukan lagi bahwa Wahabisme adalah kemungkaran yang nyata bahkan termasuk dalam kemungkaran paling mungkar (ankarul munkar/ asyaddul munkar) karena dapat merusak Iman dan Aqidah setiap orang yang beriman, dan sema’ruf-ma’ruf nya perkara ma’ruf (a’raful ma’ruf/ afdhalul ma’ruf) adalah bertauhid dengan Tauhid yang benar, mensucikan Allah dari semua sifat yang tidak layak bagi-Nya, dan menolak semua syubhat-syubhat dalam aqidah, maka memberantas Wahabisme khusus nya dan semua aliran sesat lain baik di dunia nyata atau di dunia maya, termasuk dalam “amar ma’ruf – nahi mungkar” bahkan harus nya menjadi prioritas utama bagi setiap orang tua, bagi setiap Shufi, Da’i, Ustadz, Muballigh, Ulama, Santri, dan seluruh masyarakat muslim pada umum nya, menurut kapasitas masing-masing, beruntunglah orang-orang yang mendapat petunjuk dan tetap dalam aqidah Ahlus Sunnah Waljama’ah[Aswaja].

Allah ta’ala berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَاجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.* Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 104-105)

Allah ta’ala berfirman pula :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Luqmanul Hakim berpesan pada anak nya:

يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَٲلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia dengan yang baik (ma’ruf) dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS:Luqman 17)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الايمان

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Ada tiga poin dalam Hadits tersebut, poin pertama dan kedua (yaitu merubah dengan tangan dan lisan) adalah kewajiban bagi siapa yang punya kesanggupan dan wewenang, dan poin ketiga (yaitu mengingkari dengan hati) adalah kewajiban bagi setiap pribadi muslim dalam hati nya, karena tidak ada pilihan lain setelah itu kecuali hilanglah Iman nya, sebagaimana tersebut dalam riwayat lain, “Tidak ada sesudah itu (mengingkari dengan hati) keimanan sebesar biji sawi (sedikitpun)”.

Dalam Shahih Muslim (no. 2674) Rasulullah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun.”

Juga disebutkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.”

Amar ma’ruf- nahi mungkar sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, hukum nya Fardhu Kifayah dan bahkan Fardhu ‘Ain ketika tidak ada orang lain, maka hukum memberantas aliran yang menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah, Wahabi pada khususnya, dan aliran lain pada umumnya, adalah Fardhu Kifayah atas setiap muslim dari dunia Islam, dan menginkarinya dalam hati adalah Fardhu ‘Ain atas setiap muslim dari diri masing-masing, dan kewajiban amar ma’ruf-nahi mungkar ini akan tetap terbebani meski pun tidak lagi berpengaruh bagi mereka (Wahabi dan lain nya), perbedaan pendapat memang bukanlah suatu kemungkaran, dan sudah sewajar nya di hargai dan ditanggapi positif, agar tetap selalu terjaga Ukhuwah sesama muslim, tapi selama perbedaan tersebut masih berada di jalur yang benar dan tidak melampaui batas, apa lagi sampai berpaling dari aqidah yang benar, maka perbedaan yang telah berpaling tersebut harus di perangi, di musuhi, dan di bentengi kemurnian Islam dari syubhat semacam itu, sekurang-kurang nya menjaga hati dari syubhat tersebut, jangan sampai timbul keragu-raguan dalam hati, karena keragu-raguan dalam syubhat aqidah berpengaruh pada keyakinan dan ketetapan aqidah kita sendiri, jangan menyangka kita punya aqidah bila masih meragukan kesesatan aqidah sebaliknya, kalaupun kita tidak ikut menumpas aliran-aliran Islam yang telah berpaling, karena mau atau tidak punya kesanggupan, maka kewajiban yang mesti dan pasti disanggupi oleh setiap muslim adalah meyakini mereka telang berpaling, dan memantapkan hati dalam Aqidah Ahlus Sunnah Waljama’ah, ingatlah bahwa keragu-raguan pada mereka adalah keragu-raguan pada dirimu sendiri, menjaga hati bukan dengan meridhai kesesatan.

Memang hanya Allah saja-lah yang sanggup memberi hidayah, memang manusia tidak punya kesanggupan apapun tanpa Qudrah dan Iradah Allah, memang harus di akui dan di yakini sepenuh hati bahwa siapa yang di kehendaki sesat oleh Allah maka ia akan tersesat, dan siapa yang di kehendaki hidayah oleh Allah maka ia akan terpetunjuk, tetapi bukan berarti lantas kita melupakan kewajiban kita mengajak saudara kita dalam kebaikan dan mengecam semua bentuk kejahatan dan kesesatan, tugas ini hendaknya terus berjalan berbarengan dengan keyakinan bahwa Allah Maha memberi petunjuk, Rasul pun tidak mampu memberi hidayah, tapi tugas Rasul hanyalah menyampaikan saja, manusia hanya bisa berusaha dan tidak berputus asa, cuma Allah yang menentukan.

Mari kita renungkan dan hayati Ayat-Ayat Al-Quran berikut ini :

Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu , sedang kamu mengetahui”.[Al-Baqarah : 42]

Imam Ar-Razi (606 H) dalam Tafsir nya menyatakan bahwa dalam ayat tersebut terdapat larangan penipuan atau penyesatan. dan menurut Imam Ar-Razi penyesatan bisa terjadi 2 cara sebagaimana dipahami dari ayat tersebut yakni dengan pendalilan yang salah (pelesetan dalil) dan dengan menyembunyikan dalil.

Kebanyakan aliran-aliran sesat dalam Islam (mengatasnamakan Islam) lahir karena kesalahan memahami dalil, baik kesengajaan atau kejahilan tetap itu kemungkaran yang semestinya menjadi prioritas dakwah meluruskan pemahaman yang salah dengan tidak melupakan etika-etika dakwah agar bisa jalan seiring dengan ukhuwah, agar tidak terkesan memecah-belah ummat, dakwah meluruskan pemahaman yang salah ini bukanlah hal baru, tapi melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Ulama-Ulama terdahulu, insyaallah dengan berkat kemuliaan Ulama kita akan selalu bantuan Allah dan keridhaan-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.[An-Nahl : 90]

Menurut Ibnu Abbas maksud [الْعَدْلِ/'adli] adalah Tauhid, yaitu bertauhid dengan Tauhid yang adil (pertengahan) tidak mengingkari adanya Tuhan dan bukan menyakini ada sifat makhluk pada Tuhan, tidak Ta’thil dan tidak Tajsim, tidak berlebihan dan juga tidak mengurangi.

Firman Allah ta’ala dalam surat Al-Mujadilah 14-18

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ قَوۡمًا غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡہِم مَّا هُم مِّنكُمۡ وَلَا مِنۡہُمۡ وَيَحۡلِفُونَ عَلَى ٱلۡكَذِبِ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ * أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ عَذَابً۬ا شَدِيدًا‌ۖ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ * ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَـٰنَہُمۡ جُنَّةً۬ فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَهُمۡ عَذَابٌ۬ مُّهِينٌ۬ * لَّن تُغۡنِىَ عَنۡہُمۡ أَمۡوَٲلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ *

يَوۡمَ يَبۡعَثُہُمُ ٱللَّهُ جَمِيعً۬ا فَيَحۡلِفُونَ لَهُ ۥ كَمَا يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ‌ۖ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّہُمۡ عَلَىٰ شَىۡءٍ‌ۚ أَلَآ إِنَّہُمۡ هُمُ ٱلۡكَـٰذِبُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan [pula] dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. (14) Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (15) Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi [manusia] dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. (16) Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun [untuk menolong] mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (17) [Ingatlah] hari [ketika] mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya [bahwa mereka bukan orang musyrik] sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu [manfa’at]. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.”[QS: Al-Mujadilah 14-18]

Itulah orang-orang munafik menurut satu pendapat, dan satu pendapat lagi ayat tersebut tentang orang yahudi, meski yahudi dan munafik itu tidak sama, tapi punya banyak kesamaan.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Baqarah : 159-160].

Ayat tersebut umum tentang kecaman atas berbagai bentuk penyesatan.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ ۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُ ۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمۡ وَٱشۡتَرَوۡاْ بِهِۦ ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۖ فَبِئۡسَ مَا يَشۡتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.”[Ali 'Imran : 187]

Ibnu Katsir menyatakan bahwa dalam ayat tersebut terdapat peringatan keras terhadap para Ulama agar tidak mengikuti cara-cara mereka (ahlul kitab) dan menyampaikan ilmu apa ada nya dengan tidak menyembunyikan sesuatu pun.dan Ibnu Katsir pun menuliskan satu Hadits yaitu:

من سُئِل عن عِلْم فكَتَمه ألْجِم يوم القيامة بِلجَامٍ من نار

“Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak”

Tapi fakta nya apa yang dilakukan oleh Wahabi dan para punggawa Arab Saudi ? mereka gampang saja mengutak-atik dan merubah isi kitab Ulama yang tidak sesuai dengan kehendak mereka, mereka terlalu lancang mengatasnamakan Ulama sebagai pendukung pemahaman sesat mereka, memfitnah aqidah Imam Madzhab 4, mengkafirkan para Ulama Shufi, bahkan mengatas-namakan Allah dan Rasul atas fitnah dan kekufuran mereka, mereka telah terlalu jauh meninggalkan kemurnian Islam, dan mereka menganggap “mengejek” bila ada yang mengajak mereka kembali ke hakikat Islam, menuduh “pemecah-belah Ummat” kepada setiap yang membongkar kesesatan mereka. mereka benar-benar seperti anak panah yang telah keluar dari busur nya. wallahul musta’an.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً * ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً * أُوْلَـٰئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلاَ نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ وَزْناً * ذَلِكَ جَزَآؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُواْ وَٱتَّخَذُوۤاْ آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [QS: Al-Kahfi : 103-106]

Berkata Ibnu Katsir : وإنما هي عامة في كل من عبد الله على غير طريقة مرضية، يحسب أنه مصيب فيها، وأن عمله مقبول، وهو مخطىء، وعمله مردود

“Ayat tersebut umum kepada semua hamba Allah yang bukan atas jalan yang di ridhoi, sementara ia merasa jalan nya benar, dan amalan nya diterima, padahal ia salah dan amalan nya tertolak”. Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

Allah ta’ala berfirman :

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَـٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَـٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”[Al-Baqarah : 16]

Artinya mereka rela menukar Iman nya dengan kekufuran, atau lebih mencintai kesesatan dari pada petunjuk, dan keluar dari petunjuk kepada kesesatan, keluar dari jama’ah kepada firqah, keluar dari Sunnah kepada Bid’ah.

Allah ta’ala berfirman :

أَفَأَمِنَ ٱلَّذِينَ مَكَرُواْ ٱلسَّيِّئَاتِ أَن يَخْسِفَ ٱللَّهُ بِهِمُ ٱلأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ ٱلْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُونَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari * atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu),* atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa) Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.[An-Nahl 45-47]

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡىِۦۤ أَن يَضۡرِبَ مَثَلاً۬ مَّا بَعُوضَةً۬ فَمَا فَوۡقَهَا‌ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلاً۬‌ۘ يُضِلُّ بِهِۦ ڪَثِيرً۬ا وَيَهۡدِى بِهِۦ كَثِيرً۬ا‌ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦۤ إِلَّا ٱلۡفَـٰسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu . Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah , dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”[Al-Baqarah : 26]

Allah ta’ala berfirman :

فَإِن لَّمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَكَ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهۡوَآءَهُمۡ‌ۚ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَٮٰهُ بِغَيۡرِ هُدً۬ى مِّنَ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”[Al-Qashash : 50]

Allah ta’ala berfirman :

يَـٰدَاوُ ۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَـٰكَ خَلِيفَةً۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٌ۬ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”[Shad : 26]

Sungguh terlalu banyak Ayat-Ayat Al-Quran yang mengecam dan memberi peringatan kepada yang telah melenceng dari Agama ini yang terus-terusan menebar kesesatan atas nama kebenaran, dan Al-Quran juga selalu mengajak dan memberikan motivasi agar selalu ada yang memberantas dan menghentikan setiap kesesatan dan penyesatan tersebut menurut kemampuan yang ada, dan selebihnya bertawakkal kepada Allah yang maha memberi petunjuk.

KESIMPULAN

* Memberantas Wahabisme termasuk dalam semulia-mulia amar ma’ruf- nahi mungkar.

* Menumpas Wahabisme adalah kewajiban bagi setiap muslim, dan sekurang-kurang nya menghilangkan virus Wahabisme tersebut dari hati pribadi masing-masing.

* Meluruskan paham-paham yang telah melenceng atau sekte-sekte sesat, bukanlah memecah-belah ummat, tapi inilah kewajiban dalam berdakwah.

* Dakwah atau Amar ma’ruf- Nahi mungkar tidak boleh terhenti walaupun tidak efektif atau tidak memberi pengaruh terhadap yang di dakwahi, karena hidayah hanya milik Allah ta’ala.

* Keragu-raguan pada kesesatan adalah keragu-raguan pada keyakinan kita sendiri, berbahagialah bagi Hati yang selalu hati-hati.

* Wahabisme memang sengaja di desain dalam bentuk Islami dan terkesan mulia dengan cara-cara licik dan tidak sportif bahkan bersembunyi di balik nama Salafi, maka harus mendapat prioritas utama dalam tugas dakwah.

* Semua Amar ma’ruf- Nahi mungkar sudah pasti punya resiko, maka harus ada kesabaran dan tawakkal, Allah telah berjanji menolong siapa yang menolong Agama-Nya.

Semoga perjuangan ini terus berjalan, dan melahirkan pejuang-pejuang yang tangguh, agar Islam kembali murni dan bersatu dalam Islam Ahlus Sunnah Waljama’ah.

Allahu Akbar…!!! Allahu Akbar…!!! Allahu Akbar…!!!
sumber : http://www.suaraaswaja.com/memberantas-salafi-wahabi.html

Memberantas Salafi Wahabi

Islam akan selalu dalam tantangan dari dulu sampai akhir dunia, baik tantangan dari luar Islam maupun dari dalam Islam, tantangan dari dalam lebih bahaya dan mengkhawatirkan dari pada tantangan dari luar, tantangan dari luar Islam, meskipun berbahaya tapi mudah diketahui oleh siapa pun, tingkat keimanan seseorang yang akan menentukan ia akan selamat dari bahaya itu atau tidak, tapi tantangan dari dalam Islam, sangat sulit membedakan bagi orang awam, karena semua atas nama Islam, dalam hal ini tingkat kepahaman seseorang sangat berperan dalam menentukan nya selamat dari kesesatan paham-paham yang telah melenceng dari tuntunan Islam, sangat disayangkan bila Islam justu di rusak oleh ummat Islam itu sendiri dengan paham-paham sesat menyesatkan, maka sangat dibutuhkan sosialisasi dan amar ma’ruf – nahi mungkar dalam membongkar kesesatan Syi’ah, HTI, Millata Abraham, Ahmadiyah, pemurtadan, Wahabisme, pendangkalan Aqidah, meluruskan paham-paham yang mesti diluruskan dan semua aliran sesat lain nya, baik di luar Islam maupun di dalam Islam sendiri, dan sengaja kami khususkan Wahabisme dalam judul, karena mereka sangat berbahaya, meresahkan dan mudah terpengaruhnya orang awam dengan cara mereka yang licik dan tidak bertanggung-jawab, memalukan dan memilukan, dan semoga tulisan ini menjadi renungan dan peringatan bagi mereka yang selama ini hanya diam dan bahkan salah kaprah dalam menyikapi Dakwah dan Ukhuwah, menganggap semua firqah dalam Islam sama saja dan mereka lupa telah rela dengan kemungkaran dan mencampur-adukkan yang Haq dan yang Bathil, atau mereka lupa dengan hal-hal yang prinsipil, dan membiarkan hati nya setuju pada hal-hal yang tidak bisa di tolelir sama sekali, berbahagialah orang yang bisa menjaga hati dalam aqidah yang suci dan punya Hati yang selalu berhati-hati.

Dengan merujuk kepada kitab-kitab Ulama Ahlus Sunnah Waljamaah, sudah tidak diragukan lagi bahwa Wahabisme adalah kemungkaran yang nyata bahkan termasuk dalam kemungkaran paling mungkar (ankarul munkar/ asyaddul munkar) karena dapat merusak Iman dan Aqidah setiap orang yang beriman, dan sema’ruf-ma’ruf nya perkara ma’ruf (a’raful ma’ruf/ afdhalul ma’ruf) adalah bertauhid dengan Tauhid yang benar, mensucikan Allah dari semua sifat yang tidak layak bagi-Nya, dan menolak semua syubhat-syubhat dalam aqidah, maka memberantas Wahabisme khusus nya dan semua aliran sesat lain baik di dunia nyata atau di dunia maya, termasuk dalam “amar ma’ruf – nahi mungkar” bahkan harus nya menjadi prioritas utama bagi setiap orang tua, bagi setiap Shufi, Da’i, Ustadz, Muballigh, Ulama, Santri, dan seluruh masyarakat muslim pada umum nya, menurut kapasitas masing-masing, beruntunglah orang-orang yang mendapat petunjuk dan tetap dalam aqidah Ahlus Sunnah Waljama’ah[Aswaja].

Allah ta’ala berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَاجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.* Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imran: 104-105)

Allah ta’ala berfirman pula :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Luqmanul Hakim berpesan pada anak nya:

يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَٲلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia dengan yang baik (ma’ruf) dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS:Luqman 17)

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الايمان

“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

Ada tiga poin dalam Hadits tersebut, poin pertama dan kedua (yaitu merubah dengan tangan dan lisan) adalah kewajiban bagi siapa yang punya kesanggupan dan wewenang, dan poin ketiga (yaitu mengingkari dengan hati) adalah kewajiban bagi setiap pribadi muslim dalam hati nya, karena tidak ada pilihan lain setelah itu kecuali hilanglah Iman nya, sebagaimana tersebut dalam riwayat lain, “Tidak ada sesudah itu (mengingkari dengan hati) keimanan sebesar biji sawi (sedikitpun)”.

Dalam Shahih Muslim (no. 2674) Rasulullah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِن أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang menyeru (mengajak) kepada kesesatan, atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi demikian itu dari dosa mereka sedikitpun.”

Juga disebutkan dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut.”

Amar ma’ruf- nahi mungkar sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, hukum nya Fardhu Kifayah dan bahkan Fardhu ‘Ain ketika tidak ada orang lain, maka hukum memberantas aliran yang menyimpang dari Al-Quran dan Sunnah, Wahabi pada khususnya, dan aliran lain pada umumnya, adalah Fardhu Kifayah atas setiap muslim dari dunia Islam, dan menginkarinya dalam hati adalah Fardhu ‘Ain atas setiap muslim dari diri masing-masing, dan kewajiban amar ma’ruf-nahi mungkar ini akan tetap terbebani meski pun tidak lagi berpengaruh bagi mereka (Wahabi dan lain nya), perbedaan pendapat memang bukanlah suatu kemungkaran, dan sudah sewajar nya di hargai dan ditanggapi positif, agar tetap selalu terjaga Ukhuwah sesama muslim, tapi selama perbedaan tersebut masih berada di jalur yang benar dan tidak melampaui batas, apa lagi sampai berpaling dari aqidah yang benar, maka perbedaan yang telah berpaling tersebut harus di perangi, di musuhi, dan di bentengi kemurnian Islam dari syubhat semacam itu, sekurang-kurang nya menjaga hati dari syubhat tersebut, jangan sampai timbul keragu-raguan dalam hati, karena keragu-raguan dalam syubhat aqidah berpengaruh pada keyakinan dan ketetapan aqidah kita sendiri, jangan menyangka kita punya aqidah bila masih meragukan kesesatan aqidah sebaliknya, kalaupun kita tidak ikut menumpas aliran-aliran Islam yang telah berpaling, karena mau atau tidak punya kesanggupan, maka kewajiban yang mesti dan pasti disanggupi oleh setiap muslim adalah meyakini mereka telang berpaling, dan memantapkan hati dalam Aqidah Ahlus Sunnah Waljama’ah, ingatlah bahwa keragu-raguan pada mereka adalah keragu-raguan pada dirimu sendiri, menjaga hati bukan dengan meridhai kesesatan.

Memang hanya Allah saja-lah yang sanggup memberi hidayah, memang manusia tidak punya kesanggupan apapun tanpa Qudrah dan Iradah Allah, memang harus di akui dan di yakini sepenuh hati bahwa siapa yang di kehendaki sesat oleh Allah maka ia akan tersesat, dan siapa yang di kehendaki hidayah oleh Allah maka ia akan terpetunjuk, tetapi bukan berarti lantas kita melupakan kewajiban kita mengajak saudara kita dalam kebaikan dan mengecam semua bentuk kejahatan dan kesesatan, tugas ini hendaknya terus berjalan berbarengan dengan keyakinan bahwa Allah Maha memberi petunjuk, Rasul pun tidak mampu memberi hidayah, tapi tugas Rasul hanyalah menyampaikan saja, manusia hanya bisa berusaha dan tidak berputus asa, cuma Allah yang menentukan.

Mari kita renungkan dan hayati Ayat-Ayat Al-Quran berikut ini :

Allah ta’ala berfirman :

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu , sedang kamu mengetahui”.[Al-Baqarah : 42]

Imam Ar-Razi (606 H) dalam Tafsir nya menyatakan bahwa dalam ayat tersebut terdapat larangan penipuan atau penyesatan. dan menurut Imam Ar-Razi penyesatan bisa terjadi 2 cara sebagaimana dipahami dari ayat tersebut yakni dengan pendalilan yang salah (pelesetan dalil) dan dengan menyembunyikan dalil.

Kebanyakan aliran-aliran sesat dalam Islam (mengatasnamakan Islam) lahir karena kesalahan memahami dalil, baik kesengajaan atau kejahilan tetap itu kemungkaran yang semestinya menjadi prioritas dakwah meluruskan pemahaman yang salah dengan tidak melupakan etika-etika dakwah agar bisa jalan seiring dengan ukhuwah, agar tidak terkesan memecah-belah ummat, dakwah meluruskan pemahaman yang salah ini bukanlah hal baru, tapi melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Ulama-Ulama terdahulu, insyaallah dengan berkat kemuliaan Ulama kita akan selalu bantuan Allah dan keridhaan-Nya.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.[An-Nahl : 90]

Menurut Ibnu Abbas maksud [الْعَدْلِ/'adli] adalah Tauhid, yaitu bertauhid dengan Tauhid yang adil (pertengahan) tidak mengingkari adanya Tuhan dan bukan menyakini ada sifat makhluk pada Tuhan, tidak Ta’thil dan tidak Tajsim, tidak berlebihan dan juga tidak mengurangi.

Firman Allah ta’ala dalam surat Al-Mujadilah 14-18

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ تَوَلَّوۡاْ قَوۡمًا غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡہِم مَّا هُم مِّنكُمۡ وَلَا مِنۡہُمۡ وَيَحۡلِفُونَ عَلَى ٱلۡكَذِبِ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ * أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُمۡ عَذَابً۬ا شَدِيدًا‌ۖ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ * ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَـٰنَہُمۡ جُنَّةً۬ فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ فَلَهُمۡ عَذَابٌ۬ مُّهِينٌ۬ * لَّن تُغۡنِىَ عَنۡہُمۡ أَمۡوَٲلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔا‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِ‌ۖ هُمۡ فِيہَا خَـٰلِدُونَ *

يَوۡمَ يَبۡعَثُہُمُ ٱللَّهُ جَمِيعً۬ا فَيَحۡلِفُونَ لَهُ ۥ كَمَا يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ‌ۖ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّہُمۡ عَلَىٰ شَىۡءٍ‌ۚ أَلَآ إِنَّہُمۡ هُمُ ٱلۡكَـٰذِبُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan [pula] dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. (14) Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. (15) Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi [manusia] dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. (16) Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun [untuk menolong] mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (17) [Ingatlah] hari [ketika] mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya [bahwa mereka bukan orang musyrik] sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu [manfa’at]. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.”[QS: Al-Mujadilah 14-18]

Itulah orang-orang munafik menurut satu pendapat, dan satu pendapat lagi ayat tersebut tentang orang yahudi, meski yahudi dan munafik itu tidak sama, tapi punya banyak kesamaan.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Baqarah : 159-160].

Ayat tersebut umum tentang kecaman atas berbagai bentuk penyesatan.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَـٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ ۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُ ۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمۡ وَٱشۡتَرَوۡاْ بِهِۦ ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۖ فَبِئۡسَ مَا يَشۡتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.”[Ali 'Imran : 187]

Ibnu Katsir menyatakan bahwa dalam ayat tersebut terdapat peringatan keras terhadap para Ulama agar tidak mengikuti cara-cara mereka (ahlul kitab) dan menyampaikan ilmu apa ada nya dengan tidak menyembunyikan sesuatu pun.dan Ibnu Katsir pun menuliskan satu Hadits yaitu:

من سُئِل عن عِلْم فكَتَمه ألْجِم يوم القيامة بِلجَامٍ من نار

“Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, niscaya Allah akan mengikatnya dengan tali kekang dari api neraka di hari kiamat kelak”

Tapi fakta nya apa yang dilakukan oleh Wahabi dan para punggawa Arab Saudi ? mereka gampang saja mengutak-atik dan merubah isi kitab Ulama yang tidak sesuai dengan kehendak mereka, mereka terlalu lancang mengatasnamakan Ulama sebagai pendukung pemahaman sesat mereka, memfitnah aqidah Imam Madzhab 4, mengkafirkan para Ulama Shufi, bahkan mengatas-namakan Allah dan Rasul atas fitnah dan kekufuran mereka, mereka telah terlalu jauh meninggalkan kemurnian Islam, dan mereka menganggap “mengejek” bila ada yang mengajak mereka kembali ke hakikat Islam, menuduh “pemecah-belah Ummat” kepada setiap yang membongkar kesesatan mereka. mereka benar-benar seperti anak panah yang telah keluar dari busur nya. wallahul musta’an.

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلأَخْسَرِينَ أَعْمَالاً * ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي ٱلْحَيَاةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعاً * أُوْلَـٰئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلاَ نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ وَزْناً * ذَلِكَ جَزَآؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُواْ وَٱتَّخَذُوۤاْ آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [QS: Al-Kahfi : 103-106]

Berkata Ibnu Katsir : وإنما هي عامة في كل من عبد الله على غير طريقة مرضية، يحسب أنه مصيب فيها، وأن عمله مقبول، وهو مخطىء، وعمله مردود

“Ayat tersebut umum kepada semua hamba Allah yang bukan atas jalan yang di ridhoi, sementara ia merasa jalan nya benar, dan amalan nya diterima, padahal ia salah dan amalan nya tertolak”. Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

Allah ta’ala berfirman :

أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَـٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَـٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”[Al-Baqarah : 16]

Artinya mereka rela menukar Iman nya dengan kekufuran, atau lebih mencintai kesesatan dari pada petunjuk, dan keluar dari petunjuk kepada kesesatan, keluar dari jama’ah kepada firqah, keluar dari Sunnah kepada Bid’ah.

Allah ta’ala berfirman :

أَفَأَمِنَ ٱلَّذِينَ مَكَرُواْ ٱلسَّيِّئَاتِ أَن يَخْسِفَ ٱللَّهُ بِهِمُ ٱلأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ ٱلْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُونَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِي تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ * أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“maka apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) ditenggelamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, atau datangnya azab kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari * atau Allah mengazab mereka diwaktu mereka dalam perjalanan, maka sekali-kali mereka tidak dapat menolak (azab itu),* atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa) Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.[An-Nahl 45-47]

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡىِۦۤ أَن يَضۡرِبَ مَثَلاً۬ مَّا بَعُوضَةً۬ فَمَا فَوۡقَهَا‌ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡ‌ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَـٰذَا مَثَلاً۬‌ۘ يُضِلُّ بِهِۦ ڪَثِيرً۬ا وَيَهۡدِى بِهِۦ كَثِيرً۬ا‌ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦۤ إِلَّا ٱلۡفَـٰسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu . Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan : “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah , dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”[Al-Baqarah : 26]

Allah ta’ala berfirman :

فَإِن لَّمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَكَ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهۡوَآءَهُمۡ‌ۚ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَٮٰهُ بِغَيۡرِ هُدً۬ى مِّنَ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”[Al-Qashash : 50]

Allah ta’ala berfirman :

يَـٰدَاوُ ۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَـٰكَ خَلِيفَةً۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٌ۬ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ

“Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”[Shad : 26]

Sungguh terlalu banyak Ayat-Ayat Al-Quran yang mengecam dan memberi peringatan kepada yang telah melenceng dari Agama ini yang terus-terusan menebar kesesatan atas nama kebenaran, dan Al-Quran juga selalu mengajak dan memberikan motivasi agar selalu ada yang memberantas dan menghentikan setiap kesesatan dan penyesatan tersebut menurut kemampuan yang ada, dan selebihnya bertawakkal kepada Allah yang maha memberi petunjuk.

KESIMPULAN

* Memberantas Wahabisme termasuk dalam semulia-mulia amar ma’ruf- nahi mungkar.

* Menumpas Wahabisme adalah kewajiban bagi setiap muslim, dan sekurang-kurang nya menghilangkan virus Wahabisme tersebut dari hati pribadi masing-masing.

* Meluruskan paham-paham yang telah melenceng atau sekte-sekte sesat, bukanlah memecah-belah ummat, tapi inilah kewajiban dalam berdakwah.

* Dakwah atau Amar ma’ruf- Nahi mungkar tidak boleh terhenti walaupun tidak efektif atau tidak memberi pengaruh terhadap yang di dakwahi, karena hidayah hanya milik Allah ta’ala.

* Keragu-raguan pada kesesatan adalah keragu-raguan pada keyakinan kita sendiri, berbahagialah bagi Hati yang selalu hati-hati.

* Wahabisme memang sengaja di desain dalam bentuk Islami dan terkesan mulia dengan cara-cara licik dan tidak sportif bahkan bersembunyi di balik nama Salafi, maka harus mendapat prioritas utama dalam tugas dakwah.

* Semua Amar ma’ruf- Nahi mungkar sudah pasti punya resiko, maka harus ada kesabaran dan tawakkal, Allah telah berjanji menolong siapa yang menolong Agama-Nya.

Semoga perjuangan ini terus berjalan, dan melahirkan pejuang-pejuang yang tangguh, agar Islam kembali murni dan bersatu dalam Islam Ahlus Sunnah Waljama’ah.

Allahu Akbar…!!! Allahu Akbar…!!! Allahu Akbar…!!!
sumber : http://www.suaraaswaja.com/memberantas-salafi-wahabi.html

Selasa, 04 Juni 2013

Menjadi Wirausaha Agribisnis Yang Tangguh

     Wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan mengelola, mengendalikan semua usahanya. Sedangkan kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain.
      Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya.
Pada hakekatnya semua orang adalah wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri dalam emnjalankan usahanya dan pekerjaannya guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya, msaayarakat , bangsa dan negaranya, akan tetapi banyak diantara kita yang tidak berkarya dan berkarsa untuk mencapai prestasi yang lebih baik untuk masa depannya, dan ia menjadi ketergantungan pada orang lain, kelompok lain dan bahkan bangsa dan Negara lainnya.
     Dalam wirausaha memiliki konsep sebagai dasar  sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis. Menjadi wirausaha adalah hal yang penuh dengan resiko namun seorang wirausahawan yang tangguh tidak memandang itu sebuah resiko namun itu dipandang sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi. Kendala yang dihadapi dapat diminimalkan dengan cara analisis SWOT dengan demikian peluang dan ancaman usaha yang dijalankan jadi jelas.
     Wirausaha agribisnis memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang mengingat nilai ekonomi pemenuhan pangan nasional sangat besar. Peluang tersebut terlihat dari program empat sukses pembangunan pertanian yang kesemuanya terkait dengan pembangunan ketahanan pangan dan kemandirian pangan. Diantaranya adalah peningkatan produksi padi guna mencapai surplus beras 10 juta ton dalam waktu 5- 10 tahun ke depan.
     Pemerintah juga berjanji akan memberikan fasilitas bagi pengembangan kewirausahaan di bidang pertanian dan pangan. Beberapa dukungan yang telah diberikan pemerintah bagi wirausaha agraris adalah dengan memberikan pelatihan dan pendampingan usaha, pemberdayaan masyarakat, akses terhadap permodalan baik berupa bantuan sosial maupun kredit, promosi pasar serta perlindungan usaha.
     Nah,,! dengan adanya peluang yang begitu besar kini saatnya Sarjana pertanian memfokuskan diri pada bidang wirausaha, hal tersebut memberikan dua manfaat sekaligus yaitu sebagai mata pencaharian dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar usaha.
jika ingin sukses,,, kuliah jangan berharap menjadi PNS namun menjadi pelopor dalam menciptakan lapangan kerja,,,!

Selasa, 02 Agustus 2011

Merasakan Keagungan Allah

oleh : semmercy
Adz-Dzahabi adlam kitabnyaSairu A'laamin Nubaha' menyebutkan biografi Sufyan ibnu Sa'id Ats-Tsauri,seorang imam yang alim, ahli zuhud,dan ahli ibadah, bahwa suatu malam dia mengerjakan qiyamul lailnya, dalam bacaannya dia mengulang-ulang surah at-Takatsur, hingga pagih hari.

Ibnu Jauzy mengatakan bahwa ia telah membaca semua riwayat hidup ulama salaf, ternyata tidak menjumpai sesudah para sahabat, kecuali tiga orang yang telah matang ilmu dan amalnya, yaitu Sa'id ibnul Musayyab, Ahmad ibnu Hambal, dan Sufyan ats-Tsauri.

Ketika Sufayan ats-Tsauri kedatangan tanda-tanda kematiannya,ia menangis dengan tansian yang besar, sehingga para ulama datang menjenguknya, lalu mereka menghiburnya dan menenangkannya. Akhirnya mereka menilai baik sangkanya kepada Allah Ta'ala.

Dalam kitab Dzailu Thobaqoot Hanabilah karya tulis Ibnu Rajab disebutkan riwayat hidup Abdul Ghani al Maqdis, seorang imam pentolan yant tunduk patuh kepada Allah lagi bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, penulis kitab Al Kamal fii Asma ir Rijaal tentang ilmu hadist yang belum pernah ada tulisan yang semisal dengannya.

Ibnu Rajab menceritakan bahwa Abdul Ghani ketika dipenjara dimasukkan ke dalam sel bersama dengan sejumlah orang-orang Yahudi. Setiap malam hari Abdul Ghani bangun melakukan shalat sunnah malam hari. Setipa kali shalat dua raka'at, ia mengerjakannya dengan menangis hingga tangisannya mengalahkan suaranya.

Selanjutnya, ia berwudhu' dan shalat dua rakaat lagi dengan menangis, demikianlah seterusnya hingga pagi hari. Setelah orang-orang Yahudi yang bersamanya dalam penjara melihat sikapnya itu, maka pada pagi harinya mereka semua masuk Islam. Mereka masuk Islam karena ketakutan melihar orang alim yang ahli ibadah ini dan tangisannya yang besar serta bacaannya yang begitu hangat.

Para penghuni penjara lainnya bertanya kepada mereka, "Mengapa kalian masuk Islam?", tukasnya.

Seseorang diantara orang-orang Yahudi itu menjawab : "Demi Allah, sesungguhnya aku telah melalui suatu malam yang belum pernah kualami sepanjang hidupku. Demi Allah, dia telah menggambarkan kepada kami keadaan hari Kiamat".

Akhirnya, mereka dikeluarkan dari dalam penjara, sedang mereka telah menjadi muslim dan mengakui bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad Saw adalah utusan Allah.

Inilah dakwah yang tulus, dakwah yang dilakukan oleh tangisan, dakwah Tahajjud, dakwah salat sunnah di tengah malam, dakwah yan dilakukan oleh ibadah yang seseorang tidak perlu banyak bicara didalamnya dan tidak pula banyak berkhutbah, melainkan hanya dilihat semata, tahu mereka beroleh petunjuk dan mau mengikuti.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibnu Taimiyah manakala keluar menuju pasar pada pagi hari setelah mentari naiksepenggalahan, dan orang-orang melihat penampilannya yang bercahaya lagi berwibawa karena pengaruh dari dzikir dan ibadah yang dilakukannya, mereka spontan mengulang-ngulang sebutan laa ilaaha ilalloh.

Inilah sosok yang bila dilihat akan mengingatkan kepada Alalh Rabbul alamin, karena memang di antara orang-orang shalih, para wali, para ulama, para ahli ibadah, dan para da'i serta para penuntut ilmu, ada sebagian orang yang bila anda lihat hanya dari penampilan wajahnya semata, ia akan mengingatkan anda kepada Allah dan kebesaran-Nya. Meskipun dia berbicara sepatah kata pun kepada anda atau mengatakan suatu nasihat atau khutbah pun kepada anda. Demikianlah karena anda telah melihat pertanda kebaikan yang terpancarkan dari wajahnya, sehingga anda terkesima olehnya.

"Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." (QS Al-Fath :29).

Demikian juga karena pengaruh dari bekas munajatnya kepada allah pada malam hari.

Adz-Dzahabi dalam bukunya yang berjudul Sairu A'laamin Nubalaa' menyebutkan riwayat hidup Ibnu Wahb, seorang ahli zuhud besar, orang 'alim madzhab Maliki. Adz-Dzahabi mengatakan bahwa Ibnu Wahb telah menulis Kitab Ahwaalul Qiyaamah (kengerian pada hari kiamat) untuk dirinya sendiri. Orang-orang pun memintanya agar membacakan kitab itu kepada mereka di dalam masjid.

Ibnu Wahb keluar dan mengumpulkan semua orang. Setelah itu ia berkata kepada anaknya: "Bacakanlah kepadaku kengerian pada hari kiamat!" Saat anaknya membaca baru sedikit saja dari bagian kitab itu. Ibnu Wahb jatuh pingsan tak sadarkan diri. selanjutnya, dicipratkanlah air ke wajahnya, tetapi ia masih belum sadar dan dicipratkan air lagi ke wajahnya, tetapi tidak juga sadar. selama tiga hari Ibnu Wahb dalam keadaan koma tak sadarkan diri dan pada hari keempatnya beliau berpulang ke rahmatullah alias wafat.

Ibnu Taimiyah dalam Ushulul Fiqh bagian dari kitab Fatawanya mengatakan tentangnya:" Adapun sehubungan dengan Ibnu Wahb, maka beliau adalah sesuatu yang lain, yakni termasuk sampel yang baik dalam hal kebenaran, ibadah, dan berhubungan dengan Allah.

Seandainya bukan karena Allah, kemudian karena Rasul-Nya, Muhammad, tentulah Allah tidak akan mengeluarkan sampsel-sampel manusia ini dan tidak pula para ulama dan para da'i yang menyeru manusia kepada Allah.

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia."

(QS Ali 'Imran: 110)

untuk memberi contoh kepada mereka dalam hal berdakwah, berqurban, berhubungan dengan Allah, berzuhud terhadap duniawi, menebarkan keutamaan di antara manusia, menghindarkan diri dari hal-hal yang kotor, dan menjadi teladan dalam hal bertaqwa kepada Allah.

Kita bukan sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia guna bermegah-megahan, saling membanggakan diri, bersikap angkuh, dan tidak pula untuk menimbulkan kerusakan di muka bumi. Wallahu'alam.

Bulan Ramadhan, Bulan Muhasabah dan Kemerdekaan Hakiki

oleh : semmercy
Alhamdulillah, bulan Ramadhan 1432 H sebentar lagi akan kita masuki, insya Allah akan bersamaan dengan awal bulan Agustus 2011 dimana bulan agustus ini pula terdapat tanggal yang setiap tahun selalu dirayakan oleh negara ini yakni setiap tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Pertanyaannya, benarkah negeri ini sudah merdeka? Ataukah masih terjajah?
Secara hitam diatas putih, sejak 17 Agustus 1945 memang telah diproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta. Sejak saat itu bangsa Indonesia bebas untuk menentukan nasibnya sendiri, tidak lagi di bawah penjajahan asing.
Namun faktanya, negara ini secara realitas kehidupan tidaklah merdeka. Negara ini berada di bawah penjajahan non fisik, yakni penjajahan secara pemikiran. Dan pemikiran dari penjajahan tersebut yang kemudian melahirkan berbagai macam bentuk kebijakan yang menghasilkan penderitaan secara fisik maupun mental hingga sekarang ini.
Secara ekonomi, konsep pemikiran sistem ekonomi kapitalisme yang diajarkan oleh barat telah merasuki para penguasa di negeri ini. Utang luar negeri semakin menumpuk sampai sekarang, dan menjadi tanggungan hingga beberapa generasi kedepan.
Secara politik, konsep pemikiran politik demokrasi-sekuler buah dari sistem kapitalisme pun juga semakin kokoh di negera ini.
Secara hukum, negara ini pun masih mengadopsi konsep pemikiran hukum sisa kolonial Belanda. Bukan kah Belanda adalah yang menjajah negara ini? Jika telah merdeka, kenapa tidak bisa lepas dari praktek hukum negara kolonial belanda?
Secara budaya, negara ini pun juga mengadopsi kebudayaan barat. Free seks adalah hal yang lumrah dikalangan pemuda. Bahkan ada orang tua yang malu jika anaknya tidak punya pacar. Padahal pacaran bukanlah kebudayaan Islam, melainkan kebudayaan dari hadharah barat.
Secara sosial, masyarakat mengalami keterpurukan di berbagai sektor. Pembunuhan, penganiyaan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat Indonesia. Bukan hanya tidak aman dari sesama, rakyat juga tidak aman dari penguasa mereka. Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan hubungan antarmusuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur di sana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tidak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para aktifis Islam juga tidak aman menyerukan kebenaran Islam; mereka bisa diculik kapan saja dan dituduh sebagai teroris. Bahkan umat Islam yang baru di duga sebagai teroris pun langsung di ”dor” oleh densus 88 yang mana merupakan didikan dari negara kafir barat Australia.
Jadi pertanyaannya, dengan realitas di atas, apakah layak negara ini sudah merdeka? Jawabannya jelas tidak. Negara ini belumlah benar-benar lepas dari cengkraman penjajahan. Negara ini mengalami kerterpurukan di semua bidang.
Kemerdekaan Hakiki Dengan Syari’ah Islam
Kemerdekaan hakiki adalah kemerdekaan yang membebaskan semua bangsa dan individu dari segala bentuk penjajahan, plus dari segala bentuk penghambaan kepada sesuatu yang memang tidak layak untuk di sembah. Dan itu hanya bisa diraih dengan cara kembali kepada sifat fitrah manusia, yakni merasa lemah, terbatas dan kurang.
Secara bahasa, fithrah berarti al-khilqah (naluri, pembawaan) dan ath-thabî‘ah (tabiat, karakter) yang diciptakan Allah Swt. pada manusia. (Jamaluddin al-Jauzi, Zâd al-Masîr, VI/151; az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, III/463).
Di antara naluri/pembawaan manusia yang asli adalah adanya naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) pada dirinya. Dengan naluri ini, setiap manusia pasti merasakan dirinya serba lemah, serba kurang dan serba tidak berdaya sehingga ia membutuhkan Zat Yang Mahaagung, yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan. Dialah Allah swt, dzat yang mencipatkan alam semesta, manusia dan kehidupan. Tidak ada yang lebih tinggi dan layak disembah melaikan hanya Dia.
Oleh karena itu esensi dari kembali kepada fitrah manusia berarti adalah kembalinya manusia ke jatidirinya yang asli sebagai seorang hamba di hadapan Allah sebagai Tuhannya. Menurut Imam Ja’far ash-Shadiq, seorang Muslim yang mengklaim sebagai hamba Allah mesti menyadari bahwa: (1) apa yang ada pada dirinya bukanlah miliknya, tetapi milik Allah; (2) tunduk, patuh dan tidak pernah membantah setiap perintah Allah; (3) tidak membuat aturan sendiri kecuali aturan yang telah Allah tetapkan untuk dirinya.
Dengan sifat fitrah tersebut, manusia tidak akan merasa memiliki sifat powerfull dibanding yang lain. Tidak akan membuat kerusakan dengan kekuatan yang dia miliki. Dan syariah Islam adalah sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia tersebut, baik dia muslim ataupun non muslim.
Karena Islam adalah agama yang sempurna, Islam diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat jibril as untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya, dengan sesamanya (baik muslim maupun non muslim), dan dengan dirinya sendiri.
Dengan kembali kepada jati diri sebagai seorang muslim, yang tunduk dan patuh akan hukum-hukum Allah, maka sejatinya dia akan menjauhkan dir dari segala bentuk sekulerisme, kenapa? Karena Sebab, sekularisme justru menjauhkan diri manusia dari kedudukannya sebagai seorang hamba Allah. Bahkan sekularisme menempatkan manusia sejajar dengan Tuhan, sebagaimaan sekulerisme juga merupakan ibu dari demokrasi, dimana dalam demokrasi, kedaulatan berada di tangan rakyat/penguasa. Padahal di dalam Islam, kedaulatan hanyalah ada pada Allah swt sebagai musyari’ (pembuat hukum), bukan manusia sebagaimana yang ada pada sistem demokrasi-sekuler.
Negara Tanpa Aturan Allah Adalah Negara Maksiat
Membuat hukum itu adalah hak Allah, bukan hak manusia.
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. 5 : 57)
Sebuah negara, dimana negara tersebut tidak menerapkan aturan-aturan Allah maka sejatinya negara itu telah melakukan sebuah kemaksiatan. Karena segala bentuk pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah (tidak menerapkan hukum Allah) adalah sebuah kemaksiatan kepada Allah. Setiap kemaksiatan pasti menimbulkan dosa, dan setiap dosa pasti menyebabakan fasad atau kerusakan. Itulah kenapa sampai sekarang sejak 17 Agustus 1945 berbagai macam bentuk bencana dan musibah yang berupa fasad selalu menimpa negeri ini.
fakta telah membuktikan bahwa peratuan–peraturan yang dibuat manusia—karena lebih didasarkan pada kecenderungan dan hawa nafsunya—telah melahirkan banyak ekses negatif, kerusakan dan kekacauan. Itulah yang terjadi saat ini ketika hak membuat aturan/hukum diberikan kepada manusia (rakyat) melalui mekanisme demokrasi. Mahabenar Allah yang berfirman:
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?! (TQS al-Maidah [5]: 50).
Lebih jauh, syariat Islam tidak pernah secara sengaja digunakan. Islam hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan tuhannya saja. Sebagai gantinya, di tengah-tengah sistem sekularistik itu lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama: tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta sistem pendidikan yang materialistik.
Bulan Ramadhan 1432 H, bermuhasabah lah!
Sejak 17 Agustus 1945, berarti sudah 66 tahun negara ini merdeka. Namun setelah uraian diatas, apakah negara ini sudah layak dikatakan merdeka? Jelas tidak.
Sudah saatnya pemimpin negeri ini melakukan muhasabah. Cukup sudah kiranya setengah abad lebih negeri ini mengalami keterpurukan. Cukup sudah beberapa kali ganti rezim tanpa dibarengi ganti sistem dilakukan di negeri ini.
Bulan Ramadhan tahun ini yang bertepataan dengan bulan kemerdekaan bangsa ini, seharusnya menjadi muhasabah tersendiri. Khususnya kepada para penguasa negeri ini. Bukankah mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim. Apakah mereka lupa atau tidak tahu bagaimana ramadhan merupakansebuah bulan jihad untuk meraih kemenangan secara hakiki?
Lihat dan renungkanlah bagaimana dulu Rasululah saw dan para sahabat beraktivitas di bulan Ramadhan.
Pertama: para Sahabat tidak hanya melakukan tadarus al-Quran (baik di bulan Ramadhan maupun di luar itu), tetapi juga mengamalkannya. Sebab, para Sahabat memahami bahwa membaca al-Quran adalah sunnah, sementara menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka adalah wajib. Mereka sangat menyadari bahwa al-Quran harus menjadi dasar konstitusi kaum Muslim.
Kedua: para Sahabat tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang diharamkan oleh Allah; tidak berdusta, tidak berbuat batil, tidak membuat kerusakan dan tentu saja tidak berhukum pada selain hukum Allah Swt. Mereka tidak seperti kaum Muslim saat ini, yang justru masih berhukum pada perundang-undangan dan sistem kufur yang bersumber dari sekularisme.
Ketiga: para Sahabat telah nyata-nyata menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat. Tobat mereka adalah tawbah nasûhâ, tobat yang sebenar-benarnya. Seharusnya saat ini pun kaum Muslim, yang telah menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tobat, tidak lagi melakukan maksiat meski Ramadhan telah berlalu. Maksiat terbesar yang harus segera ditinggalkan kaum Muslim saat ini adalah ketika mereka tidak menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan akibat ketiadaan Daulah Khilafah Islam di tengah-tengah mereka. Ketiadaan Daulah Khilafah juga berarti umat ini tidak memiliki pelindung dari musuh-musuh Allah.
Semoga Bulan Ramadhan tahun ini adalah bulan Ramadhan terakhir bangsa Indonesia hidup tanpa syariah Islam, dan untuk seluruh manusia di muka bumi pada umumnya. Amin Allahuma amin. Wallahu A’lam bis showab 

Senin, 27 Juni 2011

Problematika TKI & Phoby Islam

Kisah pilu harus kembali dialami tenaga kerja Indonesia yang mengadu nasib di negri orang. Seperti diberitakan, kasus terakhir dialami oleh Ruyati Binti Satubi, seorang TKW asal Bekasi Jawa Barat yang dikenai sanksi hukuman mati oleh pengadilan Arab Saudi setelah disahkan oleh Mahkamah Tamziz kerajaan negara tersebut.
Sebagaimana dikutip Antaranews (19/06), Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Moh Jumhur mengatakan bahwa Rumiyati terbukti bersalah dalam persidangan, Ruyati dengan gamblang mengakui membunuh sang majikan setelah bertengkar karena keinginannya untuk pulang tidak dikabulkan.
Sangat disayangkan memang peristiwa ini harus terjadi. Rasa prihatin, tentu! namun bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mengambil pelajaran darinya. Pemerintah Indonesia juga mesti mengambil langkah serius untuk mengusut tuntas kasus ini dan kasus-kasus serupa.
Sebelum ini, beberapa kasus naas juga harus dialami oleh TKI, kejadian yang sempat membuat geger publik beberapa waktu silam ialah kasus yang menimpa seorang TKW bernama Sumiyati. Namun kali ini sedikit berbeda, sebab Sumiyati lah yang menjadi pesakitan.
Sebagaimana diberitakan, TKI asal Nusa Tenggara Barat ini disiksa oleh majikannya di Arab Saudi. Hampir semua bagian tubuh, wajah, dan kedua kakinya mengalami luka-luka. Ia mengalami luka bakar di beberapa titik, kedua kaki nyaris lumpuh, kulit tubuh dan kepala terkelupas, tulang jari tengah tangan retak, dan alis mata rusak. Bibirnya juga dipotong.
Ironisnya perlakuan berbeda diterapkan oleh pihak Arab Saudi atas dua kasus di atas tersebut. Jika Negara itu konsisten menerapkan hukum Qishash, maka sudah semestinya pihak majikan yang menyiksa Sumiyati juga harus dikenai Qishash berupa sanksi seperti apa yang telah dia lakukan kepada Sumiyati, kecuali keluarga korban memaafkan. Dan jika keluarga memaafkan, maka harus dikenai diyat atau denda.
Sulit memang untuk mendapatkan keadilan didalam tatanan kehidupan yang tidak diatur dengan sistem Islam secara kaffah. Setidaknya contoh kedua kasus diatas menjadi salah satu bukti yang otentik.
Phoby Islam
Seperti biasanya, kasus-kasus seperti ini akhirnya menjadi santapan lezat oknum-oknum yang phoby terhadap Islam dan syariah untuk menyerang Islam. Raport merah Arab Saudi kemudian menjadi bahan untuk menuding dan menghujat Syariah. Padahal Arab Saudi bukanlah representatif penerapan syariah Islam secara kaffah, bukan pula representatif negara khilafah. Sehingga jelas tudingan tersebut adalah salah alamat.
Sebab sebagaimana diterangkan oleh para ulama, yang disebut negara Islam/khilafah ialah apabila jika memenuhi dua syarat: Pertama: diterapkannya sistem hukum Islam. Kedua: Sistem keamanannya berada di tangan sistem keamanan Islam, yaitu berada di bawah kekuasaan mereka.
Jika Arab Saudi disebut sebagai negara Islam yang menerapkan syariah Islam secara kaffah, maka semestinya di berlakukan hukum Qishash pelaku penganiayaan & pembunuhan TKI, hentikan penggunaan sistm kapitalisme dalam penyelenggaraan ibadah haji, stop pnguasaan barang tambang oleh perusahaan asing, mesti dilaksanakan politik luar negri (dakwah internasional) daulah Islam, juga harus dirubah sistem sistem pemerintahan dalam bentuk kerajaan dengan khilafah, dsb.
Terlepas dari keabsahan pengadilan Arab Saudi, hukum Islam tentu sagat jauh lebih hebat dibanding hukum sekulerisme. Dalam kasus pembunuhan misalnya, Islam memberikan sanksi berupa Qishash dalam bentuk hukuman mati. Itu Artinya Islam sangat menghargai jiwa manusia. Pelaksanaan hukum ini sarat akan solusi preventif karena menimbulkan aspek jera yang tinggi, sehingga bisa meminimalisir kasus pembunuhan.Hal ini berbeda dengan peradilan sekulerisme yang seperti tidak menghargai jiwa manusia karena lembeknya sanksi yang diberikan sehingga membuat angka kasus pembunuhan terus meningkat. Buktinya, berdasarkan data yang diperoleh dari Biro Operasi Polda Metro Jaya, kasus pembunuhan pada 2010 mengalami peningkatan sebesar 5,06 persen dari tahun sebelumnya.
Islam juga memperhatikan masalah pembuktian (Al-Bayyinah). Dalam sistem peradilan Islam, seorang baru bisa dikenai sanksi hukum jika memang terbukti bersalah. Sistem peradilan Islam hanya menerima empat macam pembuktian, yakni pengakuan, sumpah, kesaksian dan dokumen tertulis yang menyakinkan. Pengakuan terdakwa tanpa paksaan dan penuh kesadaran (tidak gila). Kesaksian (syahadah) juga begitu ketat.
Faktor keberhasilan lain peradilan Islam yang telah dibuktikan selama berabad-abad dari masa Rasulullah hingga masa khilafah utsmaniyah (Turki) ialah dimana dalam pandangan syariat Islam, seseorang yang sudah dijatuhi hukuman di dunia akan menggugurkan dosa-dosanya (Al-Jawabir)sekaligus akan menghindarkan dirinya dari hukuman Allah di hari akhir.
Maka jelas, hukuman Qishash itu bukanlah dalam rangka balas dendam, melainkan untuk menyelamatkan nyawa-nyawa lain. Maha benar Allah atas firman-Nya: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 179).
Problematika TKI
Perihal kasus Rumiyati (semoga Allah memberikan ampunan), jika dia terbukti bersalah maka siapapun itu selayaknya mendapatkan hukuman, jangan karena memiliki ikatan emosional lalu kemudian kita tidak adil dalam menyikapinya. Aneh juga jika kita harus “membenarkan” pembunuhan (jika benar-benar terbukti dan tak sesuai dengan syara’) atau dipihak lain menjadi pembela penindak kriminal (seperti kepada majikan Arab Saudi).
Peristiwa ini bisa menjadi cambukan bagi pemerintah dalam permasalahan TKI. Kenapa harus pemerintah? Karena pemerintahlah yang bertanggung jawab penuh atas persoalan TKI. Biasanya yang dilakukan sang pengampu kebijakan hanya bertindak responsif setelah adanya kejadian, dan tidak menyentuh pada akar persoalan. Setelah beriringnya waktu dan kasusnya pun reda, maka upaya penyelesaiannya pun ikut memudar.
Persoalan TKI memang begitu rumit, mulai dari permasalahan personal TKI hingga permasalahan sistem penyelenggaraannya. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan ketidakberesan persoalan TKI. Diantaranya:
Pertama: Faktor Individu. Kwalitas SDM yang tidak disiapkan dengan baik merupakan salah satu faktor kekisruhan TKI selama ini. Padahal sebagai pihak yang dikenal sebagai pahlawan devisa, semestinya pemerintah lebih meningkatkan upaya perbaikan SDM TKI ini. Misalnya peningkatan BLK (Balai latihan kerja), dsb.
Menurut Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sri Danti mengatakan sekitar 60 persen tenaga kerja wanita Indonesia tidak lulus sekolah dasar (republika.co.id 20/06). Hal ini tentu merupakan kendala besar, apalagi tanpa diikuti dengan skil yang memadai.
Kedua: Faktor sistem penyelenggaraan. Selama ini hasil kinerja BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) bisa dikatakan kurang maksimal, maka perlu adanya evaluasi dan perbaikan. Problematika TKI seringkali muncul sejak awal proses pengiriman tenaga kerja. Agen-agen legal maupun ilegal yang mengedepankan provit oriented tanpa mengindahkan standarisasi TKI hanyalah akan menimbulkan persoalan kedepannya bagi TKI itu sendiri. Seperti halnya terjadi pemalsuan-pemalsuan dokumen, ketidakberesan proses rekrutmen, dsb. Karena itu pemerintah harus lebih melakukan kontrol yang lebih ketat hal tersebut.
Tak bisa dipungkiri, banyaknya minat masyarakat yang memilih bekerja di luar negri adalah akibat semakin menyempitnya lapangan pekerjaan di Indonesia. Negri yang kaya akan potensi sumber daya alam ini ternyata belum bisa menjamin warganya untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Andai bisa memilih, tentu mereka akan lebih suka untuk dekat dengan keluarga yang dicintainya. Inilah PR besar yang harus segera dituntaskan oleh negara ini.
Jika sistem Sekuler-Kapitalisme telah nyata-nyata menjadikan Indonesia menjadi bangkrut, kenapa harus dipertahankan. Bukankah ada sistem Islam yang telah terbukti hebat dan memberikan kepuasan hati? Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Jumat, 24 Juni 2011

kemiskinan itu ujian Allah.

Punya pendidikan tinggi merupakan impian tiap orang. Tapi, bagaimana jika kemiskinan terus menghadang. Jangankan untuk biaya kuliah, buat makan saja susah.
Berikut ini penelusuran dan wawancara Eramuslim dengan seorang pemulung yang kini bisa terus kuliah di jurusan akuntansi di Pamulang, Tangerang. Mahasiswi berjilbab itu bernama Ming Ming Sari Nuryanti.
Sudah berapa lama Ming Ming jadi pemulung?
Sejak tahun 2004. Waktu itu mau masuk SMU. Karena penghasilan ayah semakin tidak menentu, kami sekeluarga menjadi pemulung.
Sekeluarga?
Iya. Setiap hari, saya, ayah, ibu, dan lima adik saya berjalan selama 3 sampai 4 jam mencari gelas mineral, botol mineral bekas, dan kardus. Kecuali adik yang baru kelas 2 SD yang tidak ikut.
***
Tempat tinggal Ming Ming berada di perbatasan antara Bogor dan Tangerang. Tepatnya di daerah Rumpin. Dari Serpong kurang lebih berjarak 40 kilometer. Kawasan itu terkenal dengan tempat penggalian pasir, batu kali, dan bahan bangunan lain. Tidak heran jika sepanjang jalan itu kerap dipadati truk dan suasana jalan yang penuh debu. Di sepanjang jalan itulah keluarga pemulung ini memunguti gelas dan botol mineral bekas dengan menggunakan karung.
Tiap hari, mereka berangkat sekitar jam 2 siang. Pilihan jam itu diambil karena Ming Ming dan adik-adik sudah pulang dari sekolah. Selain itu, bertepatan dengan jam berangkat sang ayah menuju tempat kerja di kawasan Ancol.
Setelah berjalan selama satu setengah sampai dua jam, sang ayah pun naik angkot menuju tempat kerja. Kemudian, ibu dan enam anak itu pun kembali menuju rumah. Sepanjang jalan pergi pulang itulah, mereka memunguti gelas dan botol mineral bekas.
Berapa banyak hasil yang bisa dipungut?
Nggak tentu. Kadang-kadang dapat 3 kilo. Kadang-kadang, nggak nyampe sekilo. Kalau cuaca hujan bisa lebih parah. Tapi, rata-rata per hari sekitar 2 kiloan.
Kalau dirupiahkan?
Sekilo harganya 5 ribu. Jadi, per hari kami dapat sekitar 10 ribu rupiah.
Apa segitu cukup buat 9 orang per hari?
Ya dicukup-cukupin. Alhamdulillah, kan ada tambahan dari penghasilan ayah. Walau tidak menentu, tapi lumayan buat keperluan hidup.
***
Ming Ming menjelaskan bahwa uang yang mereka dapatkan per hari diprioritaskan buat makan adik-adik dan biaya sekolah mereka. Sementara Ming Ming sendiri sudah terbiasa hanya makan sekali sehari. Terutama di malam hari.
Selain itu, mereka tidak dibingungkan dengan persoalan kontrak rumah. Karena selama ini mereka tinggal di lahan yang pemiliknya masih teman ayah Ming Ming. Di tempat itulah, mereka mendirikan gubuk sederhana yang terbuat dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.
Berapa hari sekali, pengepul datang ke rumah Ming Ming untuk menimbang dan membayar hasil pungutan mereka.
Kalau lagi beruntung, mereka bisa dapat gelas dan botol air mineral bekas di tempat pesta pernikahan atau sunatan. Sayangnya, mereka harus menunggu acara selesai. Menunggu acara pesta itu biasanya antara jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Selama 5 jam itu, Ming Ming sebagai anak sulung, ibu dan dua adiknya berkantuk-kantuk di tengah keramaian dan hiruk pikuk pesta.
Kalau di hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, keluarga pemulung ini juga punya kebiasaan yang berbeda dengan keluarga lain. Mereka tidak berkeliling kampung, berwisata, dan silaturahim ke handai taulan. Mereka justru memperpanjang rute memulung, karena biasanya di hari raya itu, barang-barang yang mereka cari tersedia lebih banyak dari hari-hari biasa.
Ming Ming tidak malu jadi pemulung?
Awalnya berat sekali. Apalagi jalan yang kami lalui biasa dilalui teman-teman sekolah saya di SMU N 1 Rumpin. Tapi, karena tekad untuk bisa membiayai sekolah dan cinta saya dengan adik-adik, saya jadi biasa. Nggak malu lagi.
Dari mana Ming Ming belajar Islam?
Sejak di SMU. Waktu itu, saya ikut rohis. Di rohis itulah, saya belajar Islam lewat mentoring seminggu sekali yang diadakan sekolah.
Ketika masuk kuliah, saya ikut rohis. Alhamdulillah, di situlah saya bisa terus belajar Islam.
Orang tua tidak masalah kalau Ming Ming memakai busana muslimah?
Alhamdulillah, nggak. Mereka welcome saja. Bahkan sekarang, lima adik perempuan saya juga sudah pakai jilbab.
***
Walau sudah mengenakan busana muslimah dengan jilbab yang lumayan panjang, Ming Ming dan adik-adik tidak merasa risih untuk tetap menjadi pemulung. Mereka biasa membawa karung, memunguti gelas dan botol air mineral bekas, juga kardus. Bahkan, Ming Ming pun sudah terbiasa menumpang truk. Walaupun, ia harus naik di belakang.
Ming Ming kuliah di mana?
Di Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi S1.
Maaf, apa cukup pendapatan Ming Ming untuk biaya kuliah?
Jelas nggak. Tapi, buat saya, kemiskinan itu ujian dari Allah supaya kita bisa sabar dan istiqamah. Dengan tekad itu, saya yakin bisa terus kuliah.
Walaupun, di semester pertama, saya nyaris keluar. Karena nggak punya uang buat biaya satu semester yang jumlahnya satu juta lebih. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah semuanya bisa terbayar.
***
Di awal-awal kuliah, muslimah kelahiran tahun 90 ini memang benar-benar melakukan hal yang bisa dianggap impossible. Tanpa uang memadai, ia bertekad kuat bisa masuk kuliah.
Ketika berangkat kuliah, sang ibu hanya memberikan ongkos ke Ming Ming secukupnya. Artinya, cuma ala kadarnya. Setelah dihitung-hitung, ongkos hanya cukup untuk pergi saja. Itu pun ada satu angkot yang tidak masuk hitungan alias harus jalan kaki. Sementara pulang, ia harus memutar otak supaya bisa sampai ke rumah. Dan itu ia lakukan setiap hari.
Sebagai gambaran, jarak antara kampus dan rumah harus ditempuh Ming Ming dengan naik empat kali angkot. Setiap angkot rata-rata menarik tarif untuk jarak yang ditempuh Ming Ming sekitar 3 ribu rupiah. Kecuali satu angkot di antara empat angkot itu yang menarik tarif 5 ribu rupiah. Karena jarak tempuhnya memang maksimal. Jadi, yang mesti disiapkan Ming Ming untuk sekali naik sekitar 14 ribu rupiah.
Di antara trik Ming Ming adalah ia pulang dari kuliah dengan berjalan kaki sejauh yang ia kuat. Sambil berjalan pulang itulah, Ming Ming mengeluarkan karung yang sudah ia siapkan. Sepanjang jalan dari Pamulang menuju Serpong, ia melepas status kemahasiswaannya dan kembali menjadi pemulung.
Jadi, jangankan kebayang untuk jajan, makan siang, dan nongkrong seperti mahasiswa kebanyakan; bisa sampai ke rumah saja bingungnya bukan main.
Sekarang apa Ming Ming masih pulang pergi dari kampus ke rumah dan menjadi pemulung sepulang kuliah?
Saat ini, alhamdulillah, saya dan teman-teman UKM Muslim (Unit Kegiatan Mahasiswa Muslim) sudah membuat unit bisnis. Di antaranya, toko muslim. Dan saya dipercayakan teman-teman sebagai penjaga toko.
Seminggu sekali saya baru pulang. Kalau dihitung-hitung, penghasilannya hampir sama.
Jadi Ming Ming tidak jadi pemulung lagi?
Tetap jadi pemulung. Kalau saya pulang ke rumah, saya tetap memanfaatkan perjalanan pulang dengan mencari barang bekas. Bahkan, saya ingin sekali mengembangkan bisnis pemulung keluarga menjadi tingkatan yang lebih tinggi. Yaitu, menjadi bisnis daur ulang. Dan ini memang butuh modal lumayan besar.
Cita-cita Ming Ming?
Saya ingin menjadi da'i di jalan Allah. Dalam artian, dakwah yang lebih luas. Bukan hanya ngisi ceramah, tapi ingin mengembangkan potensi yang saya punya untuk berjuang di jalan Allah. (MN)

Jumat, 29 April 2011

Dosa ibarat racun

KetiKa kita didunia ini meninggalkan makan makanan yang bercampur dengan RACUN karena kita tau itu akan memBAHAYAKAN jiwa kita,,
Dan seberapa perlukah bagi kiTa meningGalkan DOSA yang dapt menyengSARAKAN kita di akhiran nanti,,!!

Bahaya makan berlebihan

"Makan hingga kekenyangan dapat menimbulkan 6 bahaya, yaitu :
1. Hilangnya rasa takut kepada Allah dari hati org tersebut.
2. Hilangnya rasa belas kasih terhadap orang lain dari org yg demikian.
3. Merasa sulit atau berat dlm mengerjakan ibadah.
4. Apabila mendengar kata2 berhikmah, ia tidak merasa tawadhu, rendah hati atau kehalusan jiwa.
5. Apabila dy memberikan nasihat atau ceramah, mk nasihat tidak berkesan atau tidak meresap ke dlm hati pendengarnya,dan
6. Banyak penyakit tumbuh dalam tubuhnya".

@saya ambil dri kitab Ihya'ulumuddin karya IMAM AL-GHAZZALI.

Jumat, 25 Maret 2011

"WTC 911" DAN MISI DAJJAL

Bismillahirrahmaanirrahiim. Peristiwa Tragedi WTC 11 September 2001, menyisakan rentetan panjang penderitaan manusia yang luar biasa. Bukan hanya ribuan korban yang hancur terbakar, jatuh, atau tertimbun kejamnya material reruntuhan WTC. Namun miliaran Ummat Islam juga menderita akibat peristiwa itu. Tragedi WTC menghalalkan kaum Muslimin diperangi atas nama “war on terror” yang dikomandoi oleh George Bush –laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in-.
Peristiwa itu sendiri terjadi di WTC New York, pada tanggal 11 September 2001. Kalau disingkat, WTC 119; 11 adalah tanggalnya, dan 9 adalah bulannya. Tetapi dalam ejaan Inggris, bulan ditulis lebih dulu, sehingga menjadi 911 (nine one one). Sehingga peristiwa itu kerap disebut “WTC nine one one”. Dan kebetulan kode 911 merupakan kode panggilan darurat di Amerika. Orang seluruh Amerika paham kode “911” yaitu panggilan darurat kepolisian. Bahkan begitu populernya, sampai ada istilah “Nanny 911” untuk menunjukkan kepada karakter seorang Nanny (pengasuh anak) yang siap dipanggil kapan saja untuk menangani kasus-kasus kenakalan anak yang sudah mencapai taraf darurat.
Istilah “WTC 911” itu bukan main-main. Ia bukan peristiwa biasa, ia bukan aksi terorisme biasa, ia bukan tragedi biasa. “WTC 911” adalah sebuah ICON gerakan besar yang dikembangkan di awal abad 21. Ia adalah simbol atau kode bagi Zionisme internasional untuk menenggelamkan dunia dalam perang anti terorisme yang mereka rancang. Khususnya, “WTC 911” adalah missi internasional untuk memerangi kebangkitan kaum Muslimin melalui isu terorisme. Ini adalah sandi, kode, atau icon gerakan Zionisme
internasional.


Sebagai orang beriman, kita jelas menolak Tragedi WTC 11 September 2001 itu, dan lebih menolak lagi ketika tragedi itu dijadikan alasan untuk memerangi kaum Muslimin di seluruh dunia. Hanya orang-orang kafir saja, atau manusia yang sudah tersesat sejauh-jauhnya, yang akan ridha dengan agenda perang untuk menghancurkan kehidupan kaum Muslimin itu.
Ada setidaknya 4 alasan untuk menolak missi “WTC 911”, yaitu:
[1] Ummat Islam secara mutlak harus menolak, menentang, atau mengingkari agenda-agenda yang diciptakan oleh Zionisme internasional. Tidak ada toleransi bagi Zionisme, sebagaimana tidak ada toleransi bagi dajjal –laknatullah ‘alaih-.
[2] Perang terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah kekafiran, kezhaliman, dan kebiadaban yang sama sekali tertolak dalam ajaran Islam. Menerima perang seperti itu sama saja dengan membunuh agama sendiri.
[3] Tindakan terorisme terhadap warga sipil, laki-laki dan wanita, dewasa atau anak-anak, Muslim atau bukan, adalah perbuatan HARAM. Ia termasuk perbuatan merusak di muka bumi yang sangat diharamkan. Islam menghalalkan Jihad Fi Sabilillah, perang melawan musuh-musuh Islam; tetapi Jihad Fi Sabilillah bukan aksi terorisme yang penuh kepengecutan. Kalau mau Jihad, silakan head to head dengan pasukan musuh, jangan kucing-kucingan dengan berlagak sebagai “mujahidin”.
[4] Menurut banyak analisis, dapat dipastikan bahwa Tragedi WTC 11 September 2001 bukan dilakukan oleh kaum Muslimin (anak buah Usamah bin Ladin), tetapi dilakukan sendiri oleh agen-agen intelijen Amerika-Israel. Tragedi itu sengaja mereka buat sebagai alasan untuk memerangi kebangkitan Islam di dunia.
Wajib bagi kaum Muslimin menolak semua cerita-cerita yang dibuat George Bush –laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in- seputar “WTC 911” itu. Apa yang diceritakan George Bush adalah kebohongan besar (seprti kebohongan Neil Amstrong dan Edwin Aldrin yang telah mendarat di bulan). Bahkan cerita bohong itu menjadi senjata bagi keturunan dajjal itu (George Bush) untuk memerangi Ummat Islam di seluruh dunia. Hanya orang kafir atau sudah sesat sejauh-jauhnya yang akan menerima cerita George Bush –laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in-. Bahkan hebatnya, banyak sekali masyarakat kritis dunia yang menertawakan peristiwa itu. Padahal banyak dari mereka non Muslim yang tidak belajar ajaran-ajaran Islam.
Demi Allah, gedung WTC tidak akan hancur hanya ditabrak oleh sebuah pesawat. Sama sekali tak akan rubuh hanya dalam beberapa menit akibat tabrakan itu. Hancurnya gedung itu semata-mata hanya melalui Demolition Controlled. Ia adalah metode peledakan terkendali yang biasa digunakan di Amerika untuk merobohkan gedung-gedung tinggi yang terletak di tengah-tengah kawasan padat gedung-gedung pencakar langit. Tabrakan pesawat hanyalah pengalih perhatian saja. Sedangkan kekuatan asli yang menghancurkan gedung WTC adalah rangkaian bom yang telah ditanam di gedung itu sendiri.
Sebagai perbandingan, tanggal 18 Februari 2010, seorang pilot menabrakkan pesawatnya ke sebuah gedung di Austin, Texas. Pilot itu bernama Joseph Stack. Dia meninggal setelah melakukan aksinya. Akibat dari tabrakan itu hanya menimbulkan kebakaran dan kerusakan gedung. Tidak sampai meruntuhkan gedung dalam sekejap. Bahkan saat sebuah pesawat latih jatuh di gedung IPTN, ia juga tidak menghancurkan gedung itu berkeping-keping. Jadi tidak ada ceritanya, sebuah pesawat bisa menghancurkan gedung pencakar langit hanya dalam beberapa menit. Ketika Timothy McVeigh meledakkan truk berisi bahan peledak penuh di depan gedung FBI Amerika. Ia tak sampai menghancurkan seluruh gedung itu. Hanya bagian depannya hancur, tidak sampai menghancurkan secara keseluruhan.
Namun disini kita mendapati FENOMENA ANEH luar biasa. Di mata orang-orang yang mengerti, tidak mungkin “WTC 911” dilakukan oleh anak buah Usamah bin Ladin. Usamah dkk. tidak memiliki kekuatan sehebat itu. Tetapi sebagian kelompok Muslim sangat mempercayai berita itu. Mereka sangat percaya bahwa peledakan WTC dilakukan oleh anak buah Usamah Cs.
Ada dua kelompok Muslim yang amat sangat percaya, bahwa pelaku peledakan WTC adalah jaringan Usamah bin Ladin (Al Qa’idah). Pertama, adalah kalangan Salafi yang merujuk kepada pemikiran Rabi’ bin Hadi Al Madkhali dan Muqbil bin Hadi Al Wada’i. Kedua, adalah kalangan Salafi Jihadi yang sangat mendukung gerakan Al Qa’idah dan memuliakan Usamah bin Ladin dan Ayman Al Zhawahiri.
Kedua kelompok itu sama-sama merujuk kepada Salafus Shalih; sama-sama mengklaim Ahlus Sunnah; sama-sama mendakwahkan Tauhid dan anti bid’ah; sama-sama mengagumi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah; sama-sama menghidupkan Sunnah dengan memakai gamis, memotong celana, dan para isterinya bercadar. Dan anehnya, kedua kelompok sama-sama mempercayai CERITA GEORGE BUSH seputar Tragedi WTC 911.
Tetapi mereka memiliki perbedaan yang sangat menyolok. Kelompok pertama, sangat menjilat kekuasaan. Tidak segan-segan mereka memuji Presiden, Kapolri, atau Densus 88. Padahal Salafus Shalih tidak ada yang mencontohkan sikap seperti itu. Sebaliknya, kelompok kedua sangat anti Pemerintahan. Semua pemerintahan yang menerapkan sistem demokrasi dituduh kafir. Termasuk Hamas di Palestina juga didakwa kafir musyrik, karena setuju demokrasi.
Kelompok pertama, kerjanya mentahdzir orang sebagai ahli bid’ah, hizbiyyah, sesat, khawarij, teroris. Kelompok kedua, kerjanya mengkafirkan orang-orang yang tidak sependirian dengan pemikiran mereka (misalnya anggota parlemen, hakim, jaksa, polisi, dll). Kelompok pertama doyan tahdzir, kelompok kedua doyan takfir.
Sesungguhnya agenda “war on terror” yang dilancarkan George Bush –laknatullah ‘alaihi wa ashabihi- adalah ditujukan untuk memerangi kebangkitan Islam. Oleh karena itu dia pernah keceplosan memakai istilah Crusade. Untuk menggulirkan agenda perang terlaknat itu, mereka membutuhkan pendukung dari kaum Muslimin. Pendukung itu bersifat PROTAGONIS (seide dengan mereka) dan ANTAGONIS (lawan mereka). Kalau hanya protagonis saja, agenda itu tidak akan berjalan. Selain ada kaum Muslimin yang mendukung agenda George Bush, juga harus ada yang beperan melawan George Bush. Salafi Rabi’iyun mendukung ide George Bush, sementara Salafi Al Qa’idah menjadi lawan George Bush. Akhirnya, panggung dunia pun dipenuhi oleh “war on terror”. Persis seperti film kartun Tom & Jerry.
Isyarat-isyarat yang ditunjukkan oleh George Bush –laknatullah ‘alaihi- sendiri sangat jelas. Dengan lantang dia membagi dunia dalam dikotomi yang sangat tegas: “You are with us or with terrorist?” Salafi Rabi’iyun jelas bersama George Bush, sementara Salafi Al Qa’idah menjadi lawan main George Bush.
Kedua kelompok “Salafi” itu dari sisi fanatiknya, ampun deh! Sangat sulit sekali bagi kita untuk menasehati, memberi masukan, meluruskan kesalahan, dll. Kalau kita bantah pendapat mereka, amarahnya semakin besar, sikap fanatiknya semakin bergelora, sikap bara’ah-nya semakin nyata.
Pandangan kita tidak akan mereka terima, sebab tidak sesuai dengan pandangan para syaikh mereka. Di mata mereka, “Orang Indonesia, tetangga sendiri, tidak memiliki hak kebenaran. Yang benar, hanyalah syaikh-syaikh dari Arab sono!” Dengan cara begitu mereka merasa bangga di hadapan orang lain. Seolah, memeluk suatu ajaran Islam, hanya dipakai untuk bangga-banggaan saja.
Meskipun kita sudah memberikan hujjah Qur’ani dan Sunni, tetap saja karena pandangan kita berbeda dengan syaikh-syaikh-nya, kita ditolak. Padahal kewajiban seorang Muslim ialah mengikuti dalil Syar’i, bukan mengikuti perkataan orang per orang. Dan hal itu pula yang sangat ditekankan oleh para ulama Salaf. Hingga ada ucapan, “Idza shah-ha al hadits, wa huwa madzhabiy” (kalau sudah sah sebuah hadits, itulah madzhabku).
Ibnu Abbas Ra. pernah mencela orang-orang di masanya yang lebih mendahulukan pendapat Abu Bakar Ra dan Umar Ra daripada pendapat Nabi Saw. Padahal ia adalah pendapat Shahabat sekaliber Abu Bakar dan Umar. Lazimnya, para syaikh yang martabatnya di bawah Abu Bakar Ra dan Umar Ra, seharusnya bisa diposisikan secara wajar di hadapan Al Qur’an dan As Sunnah.
Namun ya itu tadi, kalau agama difungsikan untuk bangga-banggaan, kelompok-kelompokan, merasa besar, merasa tinggi, merasa “paling ngerti”, ya susah memang. Dalil sejelas apapun, tetap saja akan ditolak. Wong, penyakit itu bukan pada dalilnya, tetapi penyakit ada di hati, yang berada di dada.
Demi Allah “WTC 911” bukan peristiwa sembarangan. Ia adalah ICON Zionisme untuk memerangi kaum Muslimin. Seharusnya kita menolak keras segala cerita seputar “WTC 911” itu. Cerita-cerita itu mengandung terlalu banyak kebohongan. Dengan mempercayai cerita WTC 911, sama saja kita dengan mempercayakan mata, telinga, dan akal kepada ajaran George Bush –laknatullah ‘alaih-.
Orang Arab memiliki karakter khas. Kalau mereka baik dan shalih, masya Allah, luar biasa baiknya. Seakan kita melihat malaikat dalam wujud manusia. Tetapi kalau jahat, jahatnya luar biasa. Sampai iblis pun geleng-geleng kepala, “Perasaan, gue gak gitu-gitu amat.” Lihatlah disana sosok Hamzah bin Abdul Muthalib Ra ketika sepenuh hati membela perjuangan Nabi Saw, sampai terbunuh dalam peperangan. Lalu, lihat pula sosok Abu Jahal yang sangat bengis dalam memusuhi Islam. Sama-sama Arab, sama-sama dari Makkah, tetapi karakter berbeda 180 derajat.
Di antara kelemahan kita selama ini ialah terlalu mudah takjub oleh penampilan syaikh-syaikh Arab (tidak semua syaikh). Kita anggap mereka itu ulama, panutan, marja’ ilmiyah, mursyid, dan lainnya. Memang ada yang seperti itu, alhamdulillah. Tetapi yang munafik, menyesatkan Ummat, dan sangat keji permusuhannya kepada Islam dan kaum Muslimin, juga ada. Secara zhahir tampak seperti ulama, perkataan sehari-harinya tidak lepas dari, “Qalallah wa qala Rasulullah.” Tetapi secara bathin, mereka adalah syaitan-syaitan yang menyesatkan Ummat. Maka itu Rasulullah sejak awal sudah mewanti-wanti bahaya orang-orang seperti ini. Zhahirnya seperti kita, bahasanya seperti kita (bahasa Arab), omongan seperti kita. Tetapi agenda perjuangan mereka melayani kepentingan Zionisme.
Icon “WTC 911” itu sangat jelas sekali. Yang membuat icon adalah Zionisme, yang melariskan dagangan mereka ternyata saudara-saudara kita juga. Yang satu bermudah-mudah menuduh orang lain teroris khawarij; yang satu lagi bermudah-mudah menuduh Muslim lain kafir. Yang satu pro agenda George Bush –laknatullah ‘alaihi-, yang satu lagi menjadi “lawan main” Geroge Bush –laknatullah ‘alaih-. Yang satu terus mengacak-acak persatuan Ummat dengan ide-ide permusuhan antar sesame kaum Muslimin. Yang satu lagi terus melakukan aksi-aksi terror, agar Ummat Islam semakin hebat diperangi kaum kafir.
Bahkan yang menakjubkan, yang membuat George Bush –laknatullah ‘alaihi wa ashabih- terpilih kedua kalinya tahun 2004 lalu, adalah pidato Usamah bin Ladin yang mengancam akan menyerang Amerika. Ternyata, Si Usamah ini kemudian tidak melakukan serangan apa-apa. Tetapi, publik Amerika sudah ketakutan, sehingga George Bush –laknatullah ‘alaih- terpilih lagi. Kasus yang sama baru-baru ini terulang, dengan isu pengiriman paket bom melalui pesawat Emirates di Yaman. Paket ini sedianya akan dikirim ke Amerika. Al Qa’idah buru-buru mengklaim bahwa iutu adalah paket milik mereka. Media-media pro Zionis sangat hebat mempublikasikan paket bom ini. Dampaknya, Partai Republik di Amerika memenangkan pemilu mengalahkan partai Obama.
Tahun 1996 lalu Usamah bin Ladin menantang pasukan Amerika untuk bertempur di Afghanistan atau negeri-negeri Islam lain. Tahun 2001 Amerika jadi menyerang Afghan, tahun 2003 Amerika menyerang Irak. Lalu kemana Usamah? Kok tidak nongol-nongol? Katanya menantang Amerika, kok tidak nongol sih? Ya, itulah akal anak-anak muda Indonesia terlalu mudah dibohongi oleh omongan Usamah, Ayman, dan sejenisnya. Mereka itu masih satu paket dengan agenda Zionisme, dengan sandi operasi “WTC 911”. Maka tidak heran kalau Ayman Al Zhawahiri cepat-cepat mengkafirkan Hamas di Palestina. Sebab itu satu arah dengan kepentingan Zionisme internasional. Kita harus berhati-hati dengan syaitan-syaitan yang berkedok syaikh, mujahidin, dan sebagainya. Andaikan Usamah benar-benar seorang mujahid Islam sejati; dia pasti akan terbunuh seperti Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Ahmad Yasin, Yahya Ayash, Jendral Khatab, dan lainnya –rahimahumullah jami’an-.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Ummat, dan bermanfaat pula bagi diri kami sendiri. Allahumma amin
DI AMBIL DARI PUSTAKA LANGIT BIRU

Rabu, 23 Februari 2011

fakta-fakta unik dunia

Menurut penelitian yang dilakukan oleh lembaga Forrester, di Amerika, telepon biasa memerlukan waktu 91 tahun untuk mencapai jumlah 100 Juta unit terpasang.

Sedangkan televisi memerlukan waktu 54 tahun untuk mencapai jumlah yang sama.

Sementara saat ini, handphone memperoleh satu pelanggan baru setiap 1,3 detik..!
Pizza adalah bahasa Itali untuk “pie” (kue).
Pada bagian bawah pizza dibuat dari adonan ragi yang dipanggang menjadi lingkaran seperti roti. Di Itali, orang sudah membuat pizza sejak tahun
1400-an, tapi belum diberi tomat dan keju sampai tahun 1889
Pada tahun 1889, seorang pembuat roti bernama Raffaele Esposito membuat pizza untuk Ratu Itali. Ia memutuskan untuk menggunakan bahan-bahan dengan warna seperti bendera negaranya, Itali.

Jadi Raffaele menambahkan tomat merah, keju putih, dan paprika hijau.

Itulah ceritanya kenapa hingga sekarang pizza menyerupai bendera negara Itali.

Sebelum kedatangan dan penaklukan bangsa Spanyol di Amerika Selatan, orang Indian Inca tidak mengenal besi, perunggu atau logam lain. Itu sebabnya mereka memiliki emas dalam jumlah yang sangat besar.

Mereka tidak hanya menggunakannya sebagai perhiasan, tetapi juga untuk benda keperluan sehari-hari seperti paku, peralatan makan dan memasak, sisir, dan pencabut alis.

Jadi dapat dibayangkan bagaimana ‘gila’nya orang Spanyol ketika melihat orang Indian setiap hari bersisir menggunakan sisir emas.

Sheik Shakhbut, bekas pemimpin Abu Dhabi, adalah salah satu dari beberapa pemimpin Arab yang mendapat rejeki nomplok saat ditemukannya sumber
minyak di jazirah Arab.

Namun penduduk Abu Dhabi selalu merasa heran, karena walaupun minyak telah disedot sedemikian banyaknya, uang yang dihasilkan dari penjualan minyak bumi itu tidak kelihatan ‘jejaknya’.

Maka terjadilah perebutan kekuasaan, dan Sheik Shakhbut dapat digulingkan dari kekuasaannya. Selanjutnya, sebuah komisi dibentuk untuk mencari kemana perginya uang hasil minyak Abu Dhabi. Dari istana kerajaan terbongkarlah sebagian misteri ke mana ‘perginya’ uang-uang itu.

Selama pemerintahannya Sheik Shakhbut telah menyembunyikan uang-uang hasil penjualan minyak itu di seluruh bagian istananya, mulai dari di bawah kasur, lemari, karpet dan tempat-tempat lain. Sulit untuk dihitung berapa banyak yang
disembunyikan Sheik Shakhbut, namun sebagai gambaran saja, terdapat kira-kira uang kertas senilai 2 Juta Dollar yang telah rusak dimakan tikus…

Di abad ke 17, di Eropa dikenal tindak kejahatan penculikan anak-anak yang dilanjutkan dengan membentuk mereka menjadi makhluk aneh.

Tindak kejahatan ini disebut “Comprachicos”, dimana anak-anak tadi dihambat pertumbuhannya dengan dipasangi topeng besi permanen atau dibentuk dengan sengaja untuk selanjutnya dijual kepada para bangsawan, sebagai mahluk
langka.

“The Man in the Iron Mask” karya Alexander Dumas adalah gambaran tentang Comprachicos di masa itu dimana seorang anak diculik dan kemudian dipasangi topeng besi.
Contoh lain pad “The Man Who Laughs” karya Victor Hugo, menceritakan tentang
seorang anak yang selalu tersenyum karena wajahnya dibentuk demikian akibat Comprachicos.
Di usia 25 tahun, ia dipecat dari ketentaraan, selain itu ia telah dipermalukan, patah semangat, tanpa harapan, tanpa uang.
Di ujung semua itu, berniat bunuh diri dengan meloncat dari sebuah jembatan.

Namun sebelum niat tersebut terjadi, seorang teman datang dan membujuknya untuk membatalkan niat tersebut. Sang pemuda pun membatalkan bunuh diri, dan memulai hidup baru.

Hanya dalam waktu setahun setelah rencana bunuh diri itu, ia berhasil meniti kembali karir militernya yang telah hancur, dan berhasil menjadi jenderal termuda dalam Dinas Ketentaraan Perancis. Kemenangan besar dapat
dicapainya justru saat ia memimpin prajurit-prajurit lelah yang kelaparan (dimasa inilah ia berkata “prajurit berjalan di atas perutnya”).